Sabtu, 02 Mei 2009
SUMPAH
Sumpah adalah menyebut nama Allah atau sifat-sifatnya dalam rangka untuk memberikan kekuatan atau meyakinkan pernyataan seseorang maka bersumpah dengan meyebut selaian nama Allah atau sifat-sifatnya adalah tidak meyakinkan atau tidak bisa di percaya.
Bersumpah atas nama selain Allah tidak pantas dilakukan bahkan dapat menimbulkan kekafiran karena menyekutukan Allah dengan lainnya, seperti tradisi orang jahiliyah yang bersumpah atas nama nenek moyang dan berhala mereka, nabi juga melarang melakukan sumpah dengan maksud bermain-main.
Bersumpah dengan menyebutkan nama Allah yang maha Suci dan maha Benar semata-mata untuk memberikan pembenaran dan keyakinan bahwa apa yang dinyatakan benar adanya, maka menyalahgunakan sumpah adalah tindakan penghianatan dan penghianatan ini dilakukan kepada Dzat yang maha Mulia dan Agung, maka pantaslah jika penghianat sumpah itu di “cap” pendosa besar, mendapat murka, “dijamin” neraka, merekalah orang-orang yang merugi, menukar janji Allah dengan harga yang murah.
Sumpah yang dilakukan apabila dikemudian hari ternyata menarik sumpah itu lebih baik maka sebaiknya orang tersebut menarik sumpahnya dan menebusnya hal ini sesuai dengan ajaran nabi yang agung.
Sumpah terkadang dilakukan tanpa sengaja seperti gerak reflek gitu, dan sumpah yang seperti ini tidak di kenai hukum tebusan karena tidak adanya kesengajaan.
Sumpah ibarat pusaka adalah senjata pemungkas yang di gunakan dikala terdesak maka bersumpah untuk hal-hal yang sebenarnya tidak membutuhkannya adalah dianjurkan untuk tidak melakukannya, seperti dalam melakukan jual beli, maka seorang penjual tidak boleh bersumpah dalam menawarkan barang nya walaupun hal itu bisa melariskan dagangannya, dalam hadts nabi di sebutkan orang yang melakukan sumpah dalam jual beli tidak akan mendapatkan berkah, sekalipun dengan sumpah penghasilannya menjadi sepuluh kali lipat.
SEKILAS TENTANG TEOLOGI QUR'ANI ( Sebuah Ringkasan Pemikiran Cak Hasyim)
Semangat pluralisme dan dialaog antar agama seringkali di usung dengan kemasan yang cukup beragam, adakalanya berbentuk seminar, diskusi atau debat. Adanya diskursus dialog antar agama ini merupakan sebuah upaya yang pantas untuk di dukung karena hal ini akan menjadi titik tolak untuk menciptakan keselarasan antar agama. Akan tetapi prasyarat untuk mendialogkan agama yaitu sikap ingklusif seringkali terabaikan sehingga keselarasan antar agama tidak tercapai sebagaimana yang di harapkan.
Adanya suatu penafsiran yang bias tehadap ajaran agama dan cara pandang yang tidak proporsiaonal telah mengakibatkan kekakuan pemahaman umat beragama terhadap agama-agama lain. Berdasarkan hal yang demikian maka diperlukan langkah-langkah yang tepat, guna menghilangkan kejumudan dan mengharmonikan agama-agama.
Salah satu langkah yang sering di lakukan oleh kelompok-kelmpok yang peduli terhadap integritas dan perdamaian antar agama adalah mencoba mengkaji ulang terhadap teks-teks suci agama sesuai dengan konteks ayat itu di turunkan serta menghubungkannya dengan konteks kekinian. Hal ini dilakukan dalam rangka memperoleh pemahaman yang utuh terhadap pesan dari sebuah teks agama, sehingga nilai luhur agama –perdamaian- dapat terealisasikan dalam kehidupan masyrakat yang plural.
Walaupun upaya untuk mengkaji ulang terhadap teks agama mendapatkan perhatian yang cukup tinggi dari kalangan intelektual dan tokoh-tokoh agama yang tercerahkan, namun usaha untuk mengharmoniskan antar umat beragama belum sepenuhnya berhasil, sehingga upaya tersebut perlu ditumbuh kembangkan. Buku “ Kristologi Qur’ani” yang di susun oleh Hasyim Muhammad – yang mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan kristen dengan menggunakan metode Maudhu’i dengan menggunakan pendekatan kontekstual - Merupakan salah satu langkah membangun hubungan harmonis Islam-Kristen.
Dalam bukunya ini, hasyim mencoba memahami kembali tema-tema kekristenan dalam al-Qur'an yang selama ini – menurut Hasyim - oleh sebagian kalangan ditafsirkan secara bias, distorsif dan tekstual. Berdasarkan penelitiannya, Hasyim mengemukakan bahwa, kritik, penolakan, dan kecaman baik terhadap umat yahudi maupun Nasrani dalam al-Qur'an adalah lebih merupakan respon terhadap perilaku dan kualitas moral mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam. Yakni ajaran yang mengukuhkan keimanan dan mengecam kekufuran, menganjurkan kepasrahan pada Tuhan dan menentang keangkuhan, menebar kasih sayang dan menghapus kebencian, menegakkan keadilan dan melawan kesewenang wenangan, mengokohkan solidaritas kemanusiaan dan menghilangkan egoisme serta fanatisme rasial. Dengan kata lain, ayat-ayat Kristiani yang diungkapkan oleh al-Qur'an adalah dalam rangka merespon problem-problem kemanusiaan universal. Bukan untuk membuat pagar yang memisahkan golongan tertentu dengan golongan yang lain, tetapi sebaliknya mengokohkan persatuan, membangun solidaritas, menciptakan kedamaian dan membebaskan manusia dari penindasan.
Upaya Hasyim dalam menjawab kegelisahan spiritual ini menurut sebagian kalangan merupakan upaya jalan tengah dalam memahami agama Kristen seobjektif mungkin. Disisi yang lain dengan karya tulisnya ini hasim mencoba menerjamahkan satu prinsip dalam Islam, yakni al-Islamu rahmatan li al-'alamin.
Kunjungan K. Khozen ke SMA 1 Annuqayah
RENG BEKAP VS RENG SALBUT
Langganan:
Postingan (Atom)